Tag Archives: Piala Dunia 2018

Piala Dunia FIFA – Pejabat Kunci Terkena Skorsing Selama Tujuh Tahun

Mayne-Nicholls berencana untuk mengajukan banding terhadap sanksi yang dikenakan terhadapnya

Mayne-Nicholls memimpin kelompok evaluasi tender FIFA untuk Piala Dunia 2018 dan 2022, yang masing-masing diberikan kepada Rusia dan Qatar

Seorang pejabat FIFA yang melakukan pemeriksaan terhadap proses tender Piala Dunia 2018 dan 2022 telah dilarang untuk menghadiri semua aktivitas sepak bola selama tujuh tahun.

Badan sepak bola dunia tersebut mengatakan Harold Mayne-Nicholls, 54, telah diskorsing oleh komite etik mereka. Dikatakan bahwa informasi lebih lanjut akan diberikan ketika “keputusan tersebut mulai diberlakukan”. Mayne-Nicholls berencana untuk mengajukan banding terhadap sanksi yang dikenakan terhadapnya – dan telah mempertanyakan mengapa keputusan tersebut diumumkan sebelum dia dapat mengajukan proses banding.

Mantan presiden Asosiasi Sepakbola Chili, Mayne-Nicholls adalah salah satu dari lima pejabat senior yang dikatakan oleh FIFA sedang diselidiki tahun lalu. Ia mengaku berbicara dengan para pejabat dari komite tender Qatar tentang kemungkinan penempatan kerja selama tiga orang kerabat di akademi pemuda Aspire negara tersebut. Komite etik merasa percakapan tersebut memberikan “alasan yang cukup untuk meragukan integritas proses pemeriksaan dan evaluasi Anda”, menurut bocoran email antara seorang anggota komite dan Mayne-Nicholls.

Mayne-Nicholls memimpin kelompok evaluasi tender FIFA untuk Piala Dunia 2018 dan 2022, yang masing-masing diberikan kepada Rusia dan Qatar. Pada laporannya di tahun 2010 kepada FIFA, Mayne-Nicholls – yang telah mempertimbangkan untuk mencalonkan diri di pemilihan presiden FIFA tahun ini – menyatakan keprihatinan yang serius tentang kondisi di Qatar, di mana suhu musim panas di sana bisa mencapai 50 derajat Celsius. Mayne-Nicholls adalah salah satu dari beberapa pejabat senior FIFA yang menyerukan agar laporan independen mengenai proses pemilihan tuan rumah untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 diterbitkan secara penuh.

Pada bulan Desember, FIFA memutuskan untuk menerbitkan versi laporan yang “sesuai secara hukum”, yang ditulis oleh pengacara asal Amerika Serikat, Michael Garcia, yang kemudian mengundurkan diri, dengan alasan kurangnya kepemimpinan. Otoritas Swiss telah memulai penyelidikan kriminal mengenai proses pemilihan untuk tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Sementara itu, sembilan pejabat senior FIFA menghadapi penyelidikan korupsi yang terpisah, dengan jaksa Amerika Serikat menuduh mereka menerima suap yang jumlahnya diperkirakan lebih dari $ 150 juta (£ 100 juta) selama periode 24 tahun.

David Beckham – Kegagalan FIFA Tercela Dan Mengerikan

Jaksa penuntut dari Swiss juga tengah melakukan penyelidikan terhadap proses tender untuk Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022

Beckham turut ambil bagian dalam upaya Inggris yang gagal untuk menjadi tuan rumah dari Piala Dunia 2018

Mantan kapten tim nasional Inggris, David Beckham mengatakan “sudah saatnya bagi FIFA untuk mengubah diri” setelah Sepp Blatter mengatakan ia akan mengundurkan diri dari jabatannnya sebagai presiden dari organisasi sepak bola dunia tersebut. Blatter berencana untuk mengakhiri masa pemerintahannya yang telah berlangsung selama 17 tahun setelah FIFA menjadi sasaran dari dua kasus korupsi yang menjadi pusat perhatian dunia. “Saya berharap akhirnya kita sekarang bergerak ke arah yang benar,” kata Beckham. “Beberapa hal yang baru sekarang kita ketahui telah terjadi adalah sangat tercela, tidak dapat diterima dan mengerikan untuk permainan yang sangat kita cintai ini.” Penyeledik dari Amerika Serikat menangkap tujuh orang pejabat FIFA atas tuduhan pemerasan, penipuan transfer dan pencucian uang.

Jaksa penuntut dari Swiss juga tengah melakukan penyelidikan terhadap proses tender untuk Piala Dunia 2018 yang rencananya akan diadakan di Rusia dan Piala Dunia 2022 yang akan diadakan di Qatar. Beckham, yang kini  telah pensiun setelah berkarir di klub-klub ternama seperti Manchester United, Real Madrid, LA Galaxy, AC Milan dan Paris St-Germain, turut ambil bagian dalam upaya Inggris yang gagal untuk menjadi tuan rumah dari Piala Dunia 2018. “Sepak bola bukanlah hanya milik beberapa individu di kalangan atas, sepak bola itu adalah milik jutaan orang di seluruh dunia yang mencintai olahraga ini,” katanya. “Sudah saatnya FIFA untuk berubah dan kita semua harus menyambut perubahan itu.”

FIFA – Pangeran Ali Bersumpah Untuk Mengakhiri Budaya Intimidasi

Penyidik Badan Etika Michael Garcia mengundurkan diri pada bulan Desember sebagai protes atas penanganan FIFA terhadap laporannya mengenai proses tender untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 di Rusia dan Qatar

Presiden Asosiasi Sepak Bola Jordania berusia 39 tahun, Pangeran Ali Bin Al Hussein merupakan salah satu dari tiga penantang terhadap presiden FIFA saat ini Sepp Blatter

Calon Presiden FIFA, Pangeran Ali Bin Al Hussein menyerukan agar diakhirinya “budaya intimidasi” di dalam tubuh FIFA.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Jordania berusia 39 tahun itu merupakan salah satu dari tiga penantang terhadap presiden FIFA saat ini Sepp Blatter untuk pemilihan yang akan dilangsungkan pada tanggal 29 Mei mendatang. Pangeran Ali mengatakan FIFA telah bersikap tidak mendukung terhadap perbedaan pendapat dan perdebatan di bawah masa jabatan Blatter selama 17 tahun sebagai presiden. “Di masa lalu, orang yang telah mengambil sikap dan berpegang teguh terhadap prinsip mereka malah menerima hukuman untuk itu,” katanya. “Saya berharap mulai saat ini segala sesuatunya diperlakukan secara adil dan dengan cara yang benar.”

FIFA telah menerima sejumlah tuduhan korupsi yang merusak citra badan sepak bola dunia tersebut selama masa jabatan Blatter sebagai presiden. Penyidik Badan Etika Michael Garcia mengundurkan diri pada bulan Desember sebagai protes atas penanganan FIFA terhadap laporannya mengenai proses tender untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 di Rusia dan Qatar.

Pangeran Ali, yang juga wakil presiden Konfederasi Sepak Bola Asia dan kepala Federasi Sepakbola Asia Barat, mengatakan FIFA harus menerima bahwa tuduhan korupsi telah merusak posisi organisasi tersebut. “Semua orang menyadari bahwa kita perlu meningkatkan reputasi FIFA. Anda perlu bekerja dari bawah ke atas, dan Anda harus memiliki presiden yang melayani olahraga ini,” katanya kepada BBC Sport. “Jika saya menjadi presiden, saya akan mengambil tanggung jawab atas tindakan yang telah terjadi, dan saya akan melakukan yang diharapkan dari saya di masa depan.”

Anggota keluarga kerajaan Yordania, yang telah manjadi anggota komite eksekutif FIFA selama empat tahun, menambahkan bahwa ia akan mengundurkan diri jika Blatter terpilih kembali. “Saya tidak bisa membayangkan berada di badan eksekutif untuk empat tahun ke depan, mengingat keadaan yang terjadi saat ini,” katanya.